Senin, 29 Juni 2015

Perpisahan

Tak terasa kenaikan kelas sudah usai. Bunda sudah menyiapkna bajuku dan baju Sisi di dalam koper. Nanti Zio menyusul ujar bunda. Sebenarnya adikku ada 2 Sisi dan Zio tapi Zio sementara waktu di titip dirumah tante Aca karena kondisi rumah selalu memburuk dan Zio baru saja berumur 2 tahun kasihan jika harus terus melihat pertengkaran ini.
"Bunda gapapa sendirian?" bunda mengeleng tersenyum.
"Bunda gak mau salah satu dari kita buat nemenin bunda?"
"Gak ka, bunda baik-baik aja yang penting kamu ber3 baik-baik dirumah nenek"
"Bunda nanti kita masih bisa ketemu kan?"
"Bisa dong, nanti kita ketemu, telfonan, dan masih bisa beli buku ke gramedia kak"
"Ya bun, dikit lg ayah pasti sampai aku bawa kopernya dulu ke depan" bunda memberikanku koper lalu menggendong Sisi erat. Mungkin ini terakhir kali bunda menggendong Sisi erat seperti sekarang.
aku harap walau terpisah jarak dan waktu bunda tidak akan melupakan kami, aku pasti bisa melewati masa-masa sulit sekarang ini. Ayah sudah sampai menyetir mobil, ayah membantu membawakan barang-barang ke dalam mobil.
"Ayah, kita jemput zio dulu kan?" ayah mengangguk dan menutup pintu kemudi. aku membuka jendela dan melambaikan tangan ke bunda. Sisi juga aku ajarkan cara melambaikan tangan. Rasanya sesedih ini kah terpisah dari bunda, aku rasanya ingin masuk lagi ke dalam perut bunda agar tetap tinggal bersama bunda sedekat itu selama 9 bulan. Rasanya ingin menangis tapi air mata tak akan merubah segalanya, yasudahlah Allah pasti ada jalan yang lebih baik untukku , untuk kami lebih tepatnya.

Sesampainya dirumah nenek Zio melompat dari mobil dengan cepat dan melihat rumah nenek dengan semangat.  aku hanya tersenyum dan salim ke nenek. sudah lama rasanya tidak menuju rumah besar dan tua ini. Bagaimanapun aku harus kuat untuk ada disini.

"Ayah gak kabarin bunda kalau kita sudah sampai?" ayah menggeleng, ayah mengarahkan kamarku yang ada di atas, r asanya seram. Gelap, tangganya berbunyi, dan panas. Aku sama Sisi tidur disini?
"iya ayah sama zio tidur dibawah"
"Ok!" Sisi meronta-ronta ingin turun dari gendonganku. Kasurnya terbuat dari kapuk, hanya ada satu kipas dan satu tv kecil yang sudah ketinggalan zaman.
"Bunda pasti kesepian sekarang, semoga saja disini akan lebih baik."

Sudah 2 bulan tinggal dirumah nenek rasanya tidak nyaman, nenek selalu menyuruhku mencuci piring, dan aku dibicarakan tidak benar terus oleh tante Rista. Rasanya kesal. Kenapa si ayah harus numpang tinggal? dari dulu ayah bisanya cuma numpang terus gak ada usaha untuk mandiri. Aklu benci ini, Sekolahku juga tidak menyenangkan. Baju pramuka ku di coret-coret oleh anak nakal, kursiku dikasih permen karet, ban sepedaku dibocori sehingga aku harus berjalan dari sekolah ke rumah. Ah aku kesal sekali. Uang jajan pun tak ada. Setiap pagi aku pergi ke sekolah dengan perut kosong dan pulang dengan perut kosong. aku lelah, sesampainya dirumah aku harus menjaga adikku dan aku dimarahi jika adikku menangis, ini bukan lebih baik tapi lebih buruk.
Sudah 2 bulan juga bunda tidak menelfon ke rumah nenek untuk menanyakan kabar kami, sepertinya ia sudah lupa kami. Padahal bunda adalah tempat pulang terakhir yang paling nyaman tapi ia melupakanku. Sepertinya aku harus mempertebal kekuatanku. Aku juga sudah tidak menangis tak ada bunda sudah biasa rasanya tiap malam tanpa bunda malah ditemani gonggongan anjing dari tetangga sebelah. Aku berjanji kalau aku sudah sukses aku akan membawa Zio dan Sisi jauh dari sini dan menciptakan kehidupan yang lebih menyenangkan! Aku janji..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar