Hai Senja apa kabar kamu hari ini?
Hai Senja tidak lelahkan memberi keindahan setiap hari?
Hai Senja aku fajar, kalau kamu muncul di sore hari menjelang malam.. aku muncul di malam menjelang pagi..
Dapatkah kita bertemu senja?
Kalau nanti kita bertemu, kalau kita bertemu sapa aku..
Habiskan waktu bersama sehari saja, Senja aku mencintaimu walau kita tak pernah bertemu..
Jejak warnamu begitu indah, indah sekali senja..
Pintaku hanya satu dapat bertemu dengamu, suatu saat nanti.. ya suatu saat nanti...
Patahan Sayap Malaikat
Senin, 29 Juni 2015
Perpisahan
Tak terasa kenaikan kelas sudah usai. Bunda sudah menyiapkna bajuku dan baju Sisi di dalam koper. Nanti Zio menyusul ujar bunda. Sebenarnya adikku ada 2 Sisi dan Zio tapi Zio sementara waktu di titip dirumah tante Aca karena kondisi rumah selalu memburuk dan Zio baru saja berumur 2 tahun kasihan jika harus terus melihat pertengkaran ini.
"Bunda gapapa sendirian?" bunda mengeleng tersenyum.
"Bunda gak mau salah satu dari kita buat nemenin bunda?"
"Gak ka, bunda baik-baik aja yang penting kamu ber3 baik-baik dirumah nenek"
"Bunda nanti kita masih bisa ketemu kan?"
"Bisa dong, nanti kita ketemu, telfonan, dan masih bisa beli buku ke gramedia kak"
"Ya bun, dikit lg ayah pasti sampai aku bawa kopernya dulu ke depan" bunda memberikanku koper lalu menggendong Sisi erat. Mungkin ini terakhir kali bunda menggendong Sisi erat seperti sekarang.
aku harap walau terpisah jarak dan waktu bunda tidak akan melupakan kami, aku pasti bisa melewati masa-masa sulit sekarang ini. Ayah sudah sampai menyetir mobil, ayah membantu membawakan barang-barang ke dalam mobil.
"Ayah, kita jemput zio dulu kan?" ayah mengangguk dan menutup pintu kemudi. aku membuka jendela dan melambaikan tangan ke bunda. Sisi juga aku ajarkan cara melambaikan tangan. Rasanya sesedih ini kah terpisah dari bunda, aku rasanya ingin masuk lagi ke dalam perut bunda agar tetap tinggal bersama bunda sedekat itu selama 9 bulan. Rasanya ingin menangis tapi air mata tak akan merubah segalanya, yasudahlah Allah pasti ada jalan yang lebih baik untukku , untuk kami lebih tepatnya.
Sesampainya dirumah nenek Zio melompat dari mobil dengan cepat dan melihat rumah nenek dengan semangat. aku hanya tersenyum dan salim ke nenek. sudah lama rasanya tidak menuju rumah besar dan tua ini. Bagaimanapun aku harus kuat untuk ada disini.
"Ayah gak kabarin bunda kalau kita sudah sampai?" ayah menggeleng, ayah mengarahkan kamarku yang ada di atas, r asanya seram. Gelap, tangganya berbunyi, dan panas. Aku sama Sisi tidur disini?
"iya ayah sama zio tidur dibawah"
"Ok!" Sisi meronta-ronta ingin turun dari gendonganku. Kasurnya terbuat dari kapuk, hanya ada satu kipas dan satu tv kecil yang sudah ketinggalan zaman.
"Bunda pasti kesepian sekarang, semoga saja disini akan lebih baik."
Sudah 2 bulan tinggal dirumah nenek rasanya tidak nyaman, nenek selalu menyuruhku mencuci piring, dan aku dibicarakan tidak benar terus oleh tante Rista. Rasanya kesal. Kenapa si ayah harus numpang tinggal? dari dulu ayah bisanya cuma numpang terus gak ada usaha untuk mandiri. Aklu benci ini, Sekolahku juga tidak menyenangkan. Baju pramuka ku di coret-coret oleh anak nakal, kursiku dikasih permen karet, ban sepedaku dibocori sehingga aku harus berjalan dari sekolah ke rumah. Ah aku kesal sekali. Uang jajan pun tak ada. Setiap pagi aku pergi ke sekolah dengan perut kosong dan pulang dengan perut kosong. aku lelah, sesampainya dirumah aku harus menjaga adikku dan aku dimarahi jika adikku menangis, ini bukan lebih baik tapi lebih buruk.
Sudah 2 bulan juga bunda tidak menelfon ke rumah nenek untuk menanyakan kabar kami, sepertinya ia sudah lupa kami. Padahal bunda adalah tempat pulang terakhir yang paling nyaman tapi ia melupakanku. Sepertinya aku harus mempertebal kekuatanku. Aku juga sudah tidak menangis tak ada bunda sudah biasa rasanya tiap malam tanpa bunda malah ditemani gonggongan anjing dari tetangga sebelah. Aku berjanji kalau aku sudah sukses aku akan membawa Zio dan Sisi jauh dari sini dan menciptakan kehidupan yang lebih menyenangkan! Aku janji..
"Bunda gapapa sendirian?" bunda mengeleng tersenyum.
"Bunda gak mau salah satu dari kita buat nemenin bunda?"
"Gak ka, bunda baik-baik aja yang penting kamu ber3 baik-baik dirumah nenek"
"Bunda nanti kita masih bisa ketemu kan?"
"Bisa dong, nanti kita ketemu, telfonan, dan masih bisa beli buku ke gramedia kak"
"Ya bun, dikit lg ayah pasti sampai aku bawa kopernya dulu ke depan" bunda memberikanku koper lalu menggendong Sisi erat. Mungkin ini terakhir kali bunda menggendong Sisi erat seperti sekarang.
aku harap walau terpisah jarak dan waktu bunda tidak akan melupakan kami, aku pasti bisa melewati masa-masa sulit sekarang ini. Ayah sudah sampai menyetir mobil, ayah membantu membawakan barang-barang ke dalam mobil.
"Ayah, kita jemput zio dulu kan?" ayah mengangguk dan menutup pintu kemudi. aku membuka jendela dan melambaikan tangan ke bunda. Sisi juga aku ajarkan cara melambaikan tangan. Rasanya sesedih ini kah terpisah dari bunda, aku rasanya ingin masuk lagi ke dalam perut bunda agar tetap tinggal bersama bunda sedekat itu selama 9 bulan. Rasanya ingin menangis tapi air mata tak akan merubah segalanya, yasudahlah Allah pasti ada jalan yang lebih baik untukku , untuk kami lebih tepatnya.
Sesampainya dirumah nenek Zio melompat dari mobil dengan cepat dan melihat rumah nenek dengan semangat. aku hanya tersenyum dan salim ke nenek. sudah lama rasanya tidak menuju rumah besar dan tua ini. Bagaimanapun aku harus kuat untuk ada disini.
"Ayah gak kabarin bunda kalau kita sudah sampai?" ayah menggeleng, ayah mengarahkan kamarku yang ada di atas, r asanya seram. Gelap, tangganya berbunyi, dan panas. Aku sama Sisi tidur disini?
"iya ayah sama zio tidur dibawah"
"Ok!" Sisi meronta-ronta ingin turun dari gendonganku. Kasurnya terbuat dari kapuk, hanya ada satu kipas dan satu tv kecil yang sudah ketinggalan zaman.
"Bunda pasti kesepian sekarang, semoga saja disini akan lebih baik."
Sudah 2 bulan tinggal dirumah nenek rasanya tidak nyaman, nenek selalu menyuruhku mencuci piring, dan aku dibicarakan tidak benar terus oleh tante Rista. Rasanya kesal. Kenapa si ayah harus numpang tinggal? dari dulu ayah bisanya cuma numpang terus gak ada usaha untuk mandiri. Aklu benci ini, Sekolahku juga tidak menyenangkan. Baju pramuka ku di coret-coret oleh anak nakal, kursiku dikasih permen karet, ban sepedaku dibocori sehingga aku harus berjalan dari sekolah ke rumah. Ah aku kesal sekali. Uang jajan pun tak ada. Setiap pagi aku pergi ke sekolah dengan perut kosong dan pulang dengan perut kosong. aku lelah, sesampainya dirumah aku harus menjaga adikku dan aku dimarahi jika adikku menangis, ini bukan lebih baik tapi lebih buruk.
Sudah 2 bulan juga bunda tidak menelfon ke rumah nenek untuk menanyakan kabar kami, sepertinya ia sudah lupa kami. Padahal bunda adalah tempat pulang terakhir yang paling nyaman tapi ia melupakanku. Sepertinya aku harus mempertebal kekuatanku. Aku juga sudah tidak menangis tak ada bunda sudah biasa rasanya tiap malam tanpa bunda malah ditemani gonggongan anjing dari tetangga sebelah. Aku berjanji kalau aku sudah sukses aku akan membawa Zio dan Sisi jauh dari sini dan menciptakan kehidupan yang lebih menyenangkan! Aku janji..
Sabtu, 27 Juni 2015
Berakhir segalanya
Bunda pulang seperti yang aku harapkan melewati pintu pagar hitam itu dan tidak menyapa kami..
wajahnya tampak lessu dan matanya tampak lelah menahan kantuk semalaman, kemana bunda semalam pergi?
Bunda menggebrak pintu kamar yang isinya ayah masih terbangun. Tampaknya pertengkaran akan segera dimulai.
Seharusnya hari ini aku sekolah latihan soal ujian kenaikan kelas tapi aku melihat adikku tak ada yang menjaga aku lebih memilih menjaga adikku, toh jika aku tidak naik kelas aku bisa mengulangnya tahun depan.
"Belum puas juga kamu? malu diliatin anak-anak" ucap ayahku sambil mengacak-acak rambutnya
"Harusnya kamu yang malu selama 8 tahun ini kamu menumpang hidup tanpa mencari kerja! selalu aku yang mencari nafkah!"
aku membuka pintu pagar perlahan dan membawa adikku ke suasana lebih tenang lagi diluar sana, mungkin aku akan pulang kalau alarm merah dikepalaku sudah padam.
Rasa lapar mengangguku, sedari tadi aku hanya menatap ilalang saja sambil terduduk di pos ronda dan adikku tertidur perlahan di pelukanku dengan berhembusnya angin. Wajahnya polos tanpa beban ah menggemaskannya. Kasian sekali kita tak dipedulikan.
Enak sekali jadi anak laki-laki gendut itu bisa makan dan disuapi sembari mengayuh sepedanya. mamanya menyuapinya dengan ucapan "Ayo isi bensin dulu" rasanya aku ingin menjadi anak gendut itu dan dimanja. Aku mengalihkan pandanganku ke burung gereja yang mendarat di dekatku. Pasti kalau Sisi adikku ini terbangun dia akan menunjuk-nunjuk dan ingin menangkapnya. Yasudahlah nanti aku akan menceritakannya saat dia terbangun. Perih perut disebelah kiriku sudah tak tertahan lagi, Aku menggendong adikku perlahan untuk pulang agar dia tidak terbangun. Semoga saja kebakaran dirumah sudah padam.
Sesampainya dirumah, rumah tampak porak-poranda ada pecahan kaca, pirin, kursi tebalik dan seperti biasa ibuku sudah tidak ada lagi dirumah. aku masuk ke dalam kamar sambil menghindari pecahan beling yang berserakan dilantai. aku merebakan adikku diatas kasur dan memberinya kelambu agar tak ada nyamuk yang mencium pipi gemasnya. Aku menuju dapur untuk membuat teh manis hangat mencegah perutku lapar, atau melihat isi rice cooker siapa tau saja ada nasi sesendok yang dapat kumakan dengan kecap. Karena terlalu banyak pecahan beling kakiku tersayat dan berdarah. Rasanya perih sekali inginku menangis tapi tak guna aku menangis malah akan menambah sakit dan lapar saja. aku menyeret kakiku menuju dapur dan melihat isi rice cooker ada nasi yang sudah mulai kering. Darah menetes dilantai, kalau bunda melihatnya pasti ia akan marah dan mengecapku penambah susah hidupnya. Aku mengambil piring kesayanganku winnie the pooh dan mengambil nasi, memberinya sedikit kecap akan menambah citarasa. Aku mencari hansaplast dan betadine di kotak P3K tapi kotak P3K yang biasa tergantung dibelakang pintu dapur juga tak ada. Darah tetap saja mengalir dikakiku. Apa yang harus aku lakukan agar darah ini berhenti mengalir? Aku teringat film perang yang pernah aku tonton jika darah mengalir perban dengan kain bekas yang bersih. Aku mencari kaos milikku yang sudah lusuh ditumpukan baju kotor yang sudah lama tidak dicuci. Aku menemukannya! ada lubang kecil di dekat pundak aku merobeknya asal dan melilitkannya dikakiku, begini sepertinya lebih baik. aku memakan nasiku tanpa menghiraukan rasa dan kering nasi ini anggap saja aku sedang makan nasi goreng mang Ujang depan komplek yang rasanya enak tak tertandingi.
Ayah memanggilku, ternyata sehabis makan aku tertidur di meja makan. Mungkin aku lelah. Aku segera menghampiri ayah yang sedang merapihkan serpihan beling dilantai. "Kenapa yah?" tanyaku meminggir ke tembok.
"Sisi sudah bangun coba lihat dulu." aku segera masuk ke kamar dan Sisi menangis minta di gendong dan ajak bermain atau lapar.
"Kak sini dulu.." panggil ayah, aku menghampirinya menahan sakit di kaki kanan.
"Kak kamu sudah lelah dengan pertengkaran ayah dan bunda?" aku mengangguk
"Ayah dan bunda akan bercerai, kamu dan Sisi akan ikut ayah pulang kerumah nenek."
"Oh yasudah. Kapan akan pulang kerumah nenek?" aku menjawabnya santai, tak tau lagi aku haruss bicara apa. Mungkin lebih baik mereka pisah dan mencari kebahagiaan masing-masing dibandingkan mempertahankan selalu bersama tapi berperang walalu hati tersayat mendengarnya tak ada pilihan unutk memilih bunda.
"Setelah kamu selesai ujian kenaikan kelas." jawab ayah melihat ke kalender. aku masuk lagi ke dalam kamar dan membuatkan susu untuk Sisi. Susunya sudah tinggal sedikit mungkin 2x minum lagi. aku akan membuatnya 1 sendok dan kuberi sedikit gula supaya bisa diminum untuk 2 hari sampai ayah dan bunda sadar kami butuh asupan gizi.
Malam harinya bunda sudah pulang dan duduk di sofa, aku menghampirinya ingin sekali mengobrol dengannya terakhir kali sebelum "Perceraian" akan memisahkan kami nantinya.
"Bunda capek?" tanyaku mendekat, bunda menggeleng.
"Kamu sudah makan kak?" aku menggeleng, sudah si makan tapi hanya dengan nasi kering.
"Bunda bawain kamu nasi goreng mang Ujang sama susu buat Sisi ada di dapur, makan dulu gih" aku berjalan ke dapur dengan kaki terpincang-pincang.
"Kaki kamu kenapa kak?" tanya bunda yang menyadari jalanku terpincang-pincang
"Cuma kena beling sedikit kok tadi." bunda tampak melihat kakiku dengan tatapan sedih dan menghapus air mata dipelupuk matanya
"Gapapa kok bun, sudah sembuh." ucapku dan ke dapur memakan nasi goreng mang Ujang sekarang tak perlu berkhayal lagi. Ini benar-benar nasi goreng terenak didunia.
Aku kembali lagi ke kamar, aku merasa tempat teraman didunia ini hanya kamar saja. Bunda memeluk Sisi erat dan mengelus-ngelus pipinya Sisi tampak senang akhirnya bunda kembali lagi menimangnya. Kalau dihitung-hitung waktuku tinggal seminggu lgi bersama bunda karena usai ujian kenaikan kelas aku akan tinggal dirumah nenek. aku pasti punya teman baru dan suasana baru. semoga saja disana lebih tenang dan menyenangkan. aku menghampiri bunda dan meletetakan kepalaku dipangkuannya. Bunda mengelus rambutku yang sudah panjang tak terawat ini.
"Makasih ya bun nasi gorengnya, enak loh." bunda tersenyum dan membelai rambutku lembut rasanya aku ingin mati saja sekarang supaya tidak tau kalau benar-benar terpisah dari bunda bagaimana rasanya, bunda pasti kesepian..
wajahnya tampak lessu dan matanya tampak lelah menahan kantuk semalaman, kemana bunda semalam pergi?
Bunda menggebrak pintu kamar yang isinya ayah masih terbangun. Tampaknya pertengkaran akan segera dimulai.
Seharusnya hari ini aku sekolah latihan soal ujian kenaikan kelas tapi aku melihat adikku tak ada yang menjaga aku lebih memilih menjaga adikku, toh jika aku tidak naik kelas aku bisa mengulangnya tahun depan.
"Belum puas juga kamu? malu diliatin anak-anak" ucap ayahku sambil mengacak-acak rambutnya
"Harusnya kamu yang malu selama 8 tahun ini kamu menumpang hidup tanpa mencari kerja! selalu aku yang mencari nafkah!"
aku membuka pintu pagar perlahan dan membawa adikku ke suasana lebih tenang lagi diluar sana, mungkin aku akan pulang kalau alarm merah dikepalaku sudah padam.
Rasa lapar mengangguku, sedari tadi aku hanya menatap ilalang saja sambil terduduk di pos ronda dan adikku tertidur perlahan di pelukanku dengan berhembusnya angin. Wajahnya polos tanpa beban ah menggemaskannya. Kasian sekali kita tak dipedulikan.
Enak sekali jadi anak laki-laki gendut itu bisa makan dan disuapi sembari mengayuh sepedanya. mamanya menyuapinya dengan ucapan "Ayo isi bensin dulu" rasanya aku ingin menjadi anak gendut itu dan dimanja. Aku mengalihkan pandanganku ke burung gereja yang mendarat di dekatku. Pasti kalau Sisi adikku ini terbangun dia akan menunjuk-nunjuk dan ingin menangkapnya. Yasudahlah nanti aku akan menceritakannya saat dia terbangun. Perih perut disebelah kiriku sudah tak tertahan lagi, Aku menggendong adikku perlahan untuk pulang agar dia tidak terbangun. Semoga saja kebakaran dirumah sudah padam.
Sesampainya dirumah, rumah tampak porak-poranda ada pecahan kaca, pirin, kursi tebalik dan seperti biasa ibuku sudah tidak ada lagi dirumah. aku masuk ke dalam kamar sambil menghindari pecahan beling yang berserakan dilantai. aku merebakan adikku diatas kasur dan memberinya kelambu agar tak ada nyamuk yang mencium pipi gemasnya. Aku menuju dapur untuk membuat teh manis hangat mencegah perutku lapar, atau melihat isi rice cooker siapa tau saja ada nasi sesendok yang dapat kumakan dengan kecap. Karena terlalu banyak pecahan beling kakiku tersayat dan berdarah. Rasanya perih sekali inginku menangis tapi tak guna aku menangis malah akan menambah sakit dan lapar saja. aku menyeret kakiku menuju dapur dan melihat isi rice cooker ada nasi yang sudah mulai kering. Darah menetes dilantai, kalau bunda melihatnya pasti ia akan marah dan mengecapku penambah susah hidupnya. Aku mengambil piring kesayanganku winnie the pooh dan mengambil nasi, memberinya sedikit kecap akan menambah citarasa. Aku mencari hansaplast dan betadine di kotak P3K tapi kotak P3K yang biasa tergantung dibelakang pintu dapur juga tak ada. Darah tetap saja mengalir dikakiku. Apa yang harus aku lakukan agar darah ini berhenti mengalir? Aku teringat film perang yang pernah aku tonton jika darah mengalir perban dengan kain bekas yang bersih. Aku mencari kaos milikku yang sudah lusuh ditumpukan baju kotor yang sudah lama tidak dicuci. Aku menemukannya! ada lubang kecil di dekat pundak aku merobeknya asal dan melilitkannya dikakiku, begini sepertinya lebih baik. aku memakan nasiku tanpa menghiraukan rasa dan kering nasi ini anggap saja aku sedang makan nasi goreng mang Ujang depan komplek yang rasanya enak tak tertandingi.
Ayah memanggilku, ternyata sehabis makan aku tertidur di meja makan. Mungkin aku lelah. Aku segera menghampiri ayah yang sedang merapihkan serpihan beling dilantai. "Kenapa yah?" tanyaku meminggir ke tembok.
"Sisi sudah bangun coba lihat dulu." aku segera masuk ke kamar dan Sisi menangis minta di gendong dan ajak bermain atau lapar.
"Kak sini dulu.." panggil ayah, aku menghampirinya menahan sakit di kaki kanan.
"Kak kamu sudah lelah dengan pertengkaran ayah dan bunda?" aku mengangguk
"Ayah dan bunda akan bercerai, kamu dan Sisi akan ikut ayah pulang kerumah nenek."
"Oh yasudah. Kapan akan pulang kerumah nenek?" aku menjawabnya santai, tak tau lagi aku haruss bicara apa. Mungkin lebih baik mereka pisah dan mencari kebahagiaan masing-masing dibandingkan mempertahankan selalu bersama tapi berperang walalu hati tersayat mendengarnya tak ada pilihan unutk memilih bunda.
"Setelah kamu selesai ujian kenaikan kelas." jawab ayah melihat ke kalender. aku masuk lagi ke dalam kamar dan membuatkan susu untuk Sisi. Susunya sudah tinggal sedikit mungkin 2x minum lagi. aku akan membuatnya 1 sendok dan kuberi sedikit gula supaya bisa diminum untuk 2 hari sampai ayah dan bunda sadar kami butuh asupan gizi.
Malam harinya bunda sudah pulang dan duduk di sofa, aku menghampirinya ingin sekali mengobrol dengannya terakhir kali sebelum "Perceraian" akan memisahkan kami nantinya.
"Bunda capek?" tanyaku mendekat, bunda menggeleng.
"Kamu sudah makan kak?" aku menggeleng, sudah si makan tapi hanya dengan nasi kering.
"Bunda bawain kamu nasi goreng mang Ujang sama susu buat Sisi ada di dapur, makan dulu gih" aku berjalan ke dapur dengan kaki terpincang-pincang.
"Kaki kamu kenapa kak?" tanya bunda yang menyadari jalanku terpincang-pincang
"Cuma kena beling sedikit kok tadi." bunda tampak melihat kakiku dengan tatapan sedih dan menghapus air mata dipelupuk matanya
"Gapapa kok bun, sudah sembuh." ucapku dan ke dapur memakan nasi goreng mang Ujang sekarang tak perlu berkhayal lagi. Ini benar-benar nasi goreng terenak didunia.
Aku kembali lagi ke kamar, aku merasa tempat teraman didunia ini hanya kamar saja. Bunda memeluk Sisi erat dan mengelus-ngelus pipinya Sisi tampak senang akhirnya bunda kembali lagi menimangnya. Kalau dihitung-hitung waktuku tinggal seminggu lgi bersama bunda karena usai ujian kenaikan kelas aku akan tinggal dirumah nenek. aku pasti punya teman baru dan suasana baru. semoga saja disana lebih tenang dan menyenangkan. aku menghampiri bunda dan meletetakan kepalaku dipangkuannya. Bunda mengelus rambutku yang sudah panjang tak terawat ini.
"Makasih ya bun nasi gorengnya, enak loh." bunda tersenyum dan membelai rambutku lembut rasanya aku ingin mati saja sekarang supaya tidak tau kalau benar-benar terpisah dari bunda bagaimana rasanya, bunda pasti kesepian..
Jumat, 26 Juni 2015
ĂȘtre Fort
Etre Fort yang saya ambil dari bahasa French adalah menjadi kuat..
menjadi kuat di kehidupan ini tidaklah mudah..
Aku telah mencoba berbagai upaya untuk mengungkapkan keinginanku kepada ayah dan bunda..
mereka tidak mendengarkanku, aku diacuhkan..
mereka masih asik dengan pertengkaran mereka yang aku tidak mengerti
aku ada ditengah-tengah mereka hanya termenung bingung apa yang harus aku lakukan saat itu umurku baru saja menginjak 7 tahun, apa yang harus dilakukan anak SD kelas 2 ini untuk menghentikan semua ini..
adikku sudah menangis di dalam kamar mungkin suara keras ini terlalu menggangu tidurnya yang nyenyak dan indah menjadi mimpi buruk..
aku berlari ke arah kamar adikku dan memeluknya menenangkannya..
aku terus membisikan ditelinga bayi kecil ini "berhentilah menangis cantik ada aku disini.." pelukanku erat berusaha melindunginya.. andai saja aku memiliki kekuatan super untuk menghilangkan segalanya termasuk diriku.
Aku meraih botol susu kosong dan membuat susu formula seperti biasa yang bunda ajarkan.
Memberikannya susu ternyata membuatnya diam namun suara diluar kamar masih saja berisik..
Ayah Bunda aku benci suara berisik ini kapan kalian duduk berdampingan tidak bertengkar seperti ini aku lelah sangat lelah..
jam sudah menunjukan jam 23.00 WIB bunda memilih pergi dari rumah tanpa membawa kami dan hanya ada ayah di situ terduduk lemah..
sebenarnya aku tau jika semua ini salah ayah yang selalu senang berfoya-foya dengan harta bunda dan bunda marah karena tidak ada uang dan makanan lagi dirumah kami..
aku hanya bisa mendengar debuman pintu dan tidak bisa mencegah bunda untuk pergi dimalam hari entah kemana.. tampaknya ayah juga tidak tau
ku bawa adikku kekamar ku sepertinya malam ini adik cantik ini harus tidur bersamaku, aku akan melindunginya bagaimanapun caranya..
Pagi hari datang melalui sedikit celah di jendela membangunkannku, adikku sudah bangun asik dengan jempol yang dihisapnya..
Sepertinya popok yang digunakannya sudah penuh aku harus segera menggantinya agar dia nyaman..
untung saja terkadang adikku mengerti keadaan memuakan ini..
Diluar kamar sepertinya belum ada yang terbangun atau pulang lagi kerumah ini..
yasudah jika itu yang mereka inginkan aku juga bisa melakukan semuanya sendiri keadaan ini seperti mengajarkanku sebagai kakak yang kuat walau aku perempuan aku harus sekuat baja..
rasa lapar yang sudah menggelitikku sejak malam tadi pun tidak aku hiraukan aku emnggati popok dan mengganti baju adikku yang masih 7 bulan ini dengan hati-hati..
Melihatnya tetap gembira membuatku iri bagaimana caranya bisa segembira dirinya aku iri..
Tapi saat melihat dan mendengarnya menangis menggoreskan hatiku..
Aku menggendongnya dan mengajak keluar dari kamar sambil memberinya susu..
Aku terduduk di teras ditemani suara kicauan burung di pagi hari..
Botol susu yang sudah kosong pun dibuangnya ke bawah seperti kebiasannya.
Mungkin sambil menunggu bunda akan pulang dan menjelaskan padaku keadaan apa ini.
Tak ada tempatku mengadu dan bersandar selain diriku sendiri saat ini.
menjadi kuat di kehidupan ini tidaklah mudah..
Aku telah mencoba berbagai upaya untuk mengungkapkan keinginanku kepada ayah dan bunda..
mereka tidak mendengarkanku, aku diacuhkan..
mereka masih asik dengan pertengkaran mereka yang aku tidak mengerti
aku ada ditengah-tengah mereka hanya termenung bingung apa yang harus aku lakukan saat itu umurku baru saja menginjak 7 tahun, apa yang harus dilakukan anak SD kelas 2 ini untuk menghentikan semua ini..
adikku sudah menangis di dalam kamar mungkin suara keras ini terlalu menggangu tidurnya yang nyenyak dan indah menjadi mimpi buruk..
aku berlari ke arah kamar adikku dan memeluknya menenangkannya..
aku terus membisikan ditelinga bayi kecil ini "berhentilah menangis cantik ada aku disini.." pelukanku erat berusaha melindunginya.. andai saja aku memiliki kekuatan super untuk menghilangkan segalanya termasuk diriku.
Aku meraih botol susu kosong dan membuat susu formula seperti biasa yang bunda ajarkan.
Memberikannya susu ternyata membuatnya diam namun suara diluar kamar masih saja berisik..
Ayah Bunda aku benci suara berisik ini kapan kalian duduk berdampingan tidak bertengkar seperti ini aku lelah sangat lelah..
jam sudah menunjukan jam 23.00 WIB bunda memilih pergi dari rumah tanpa membawa kami dan hanya ada ayah di situ terduduk lemah..
sebenarnya aku tau jika semua ini salah ayah yang selalu senang berfoya-foya dengan harta bunda dan bunda marah karena tidak ada uang dan makanan lagi dirumah kami..
aku hanya bisa mendengar debuman pintu dan tidak bisa mencegah bunda untuk pergi dimalam hari entah kemana.. tampaknya ayah juga tidak tau
ku bawa adikku kekamar ku sepertinya malam ini adik cantik ini harus tidur bersamaku, aku akan melindunginya bagaimanapun caranya..
Pagi hari datang melalui sedikit celah di jendela membangunkannku, adikku sudah bangun asik dengan jempol yang dihisapnya..
Sepertinya popok yang digunakannya sudah penuh aku harus segera menggantinya agar dia nyaman..
untung saja terkadang adikku mengerti keadaan memuakan ini..
Diluar kamar sepertinya belum ada yang terbangun atau pulang lagi kerumah ini..
yasudah jika itu yang mereka inginkan aku juga bisa melakukan semuanya sendiri keadaan ini seperti mengajarkanku sebagai kakak yang kuat walau aku perempuan aku harus sekuat baja..
rasa lapar yang sudah menggelitikku sejak malam tadi pun tidak aku hiraukan aku emnggati popok dan mengganti baju adikku yang masih 7 bulan ini dengan hati-hati..
Melihatnya tetap gembira membuatku iri bagaimana caranya bisa segembira dirinya aku iri..
Tapi saat melihat dan mendengarnya menangis menggoreskan hatiku..
Aku menggendongnya dan mengajak keluar dari kamar sambil memberinya susu..
Aku terduduk di teras ditemani suara kicauan burung di pagi hari..
Botol susu yang sudah kosong pun dibuangnya ke bawah seperti kebiasannya.
Mungkin sambil menunggu bunda akan pulang dan menjelaskan padaku keadaan apa ini.
Tak ada tempatku mengadu dan bersandar selain diriku sendiri saat ini.
Patahan Sayap
Terimakasih untuk para malaikat yang sudah mengobati sayap ku yang perlahan terkikis..
terimakasih untuk senyuman hangat kalian dan cahaya kalian untukku..
Terimakasih untuk kasih sayang yang terus mengalir seperti air..
Kalian bagaikan pelita dan tenda perlindungan dikala kegelapan dan rasa sakit datang..
mungkin aku belum bisa membalas semua kebaikan itu..
sekali lagi terimakasih dalam setiap titik embun yang terjatuh..
terimakasih untuk senyuman hangat kalian dan cahaya kalian untukku..
Terimakasih untuk kasih sayang yang terus mengalir seperti air..
Kalian bagaikan pelita dan tenda perlindungan dikala kegelapan dan rasa sakit datang..
mungkin aku belum bisa membalas semua kebaikan itu..
sekali lagi terimakasih dalam setiap titik embun yang terjatuh..
Langganan:
Postingan (Atom)