Bunda pulang seperti yang aku harapkan melewati pintu pagar hitam itu dan tidak menyapa kami..
wajahnya tampak lessu dan matanya tampak lelah menahan kantuk semalaman, kemana bunda semalam pergi?
Bunda menggebrak pintu kamar yang isinya ayah masih terbangun. Tampaknya pertengkaran akan segera dimulai.
Seharusnya hari ini aku sekolah latihan soal ujian kenaikan kelas tapi aku melihat adikku tak ada yang menjaga aku lebih memilih menjaga adikku, toh jika aku tidak naik kelas aku bisa mengulangnya tahun depan.
"Belum puas juga kamu? malu diliatin anak-anak" ucap ayahku sambil mengacak-acak rambutnya
"Harusnya kamu yang malu selama 8 tahun ini kamu menumpang hidup tanpa mencari kerja! selalu aku yang mencari nafkah!"
aku membuka pintu pagar perlahan dan membawa adikku ke suasana lebih tenang lagi diluar sana, mungkin aku akan pulang kalau alarm merah dikepalaku sudah padam.
Rasa lapar mengangguku, sedari tadi aku hanya menatap ilalang saja sambil terduduk di pos ronda dan adikku tertidur perlahan di pelukanku dengan berhembusnya angin. Wajahnya polos tanpa beban ah menggemaskannya. Kasian sekali kita tak dipedulikan.
Enak sekali jadi anak laki-laki gendut itu bisa makan dan disuapi sembari mengayuh sepedanya. mamanya menyuapinya dengan ucapan "Ayo isi bensin dulu" rasanya aku ingin menjadi anak gendut itu dan dimanja. Aku mengalihkan pandanganku ke burung gereja yang mendarat di dekatku. Pasti kalau Sisi adikku ini terbangun dia akan menunjuk-nunjuk dan ingin menangkapnya. Yasudahlah nanti aku akan menceritakannya saat dia terbangun. Perih perut disebelah kiriku sudah tak tertahan lagi, Aku menggendong adikku perlahan untuk pulang agar dia tidak terbangun. Semoga saja kebakaran dirumah sudah padam.
Sesampainya dirumah, rumah tampak porak-poranda ada pecahan kaca, pirin, kursi tebalik dan seperti biasa ibuku sudah tidak ada lagi dirumah. aku masuk ke dalam kamar sambil menghindari pecahan beling yang berserakan dilantai. aku merebakan adikku diatas kasur dan memberinya kelambu agar tak ada nyamuk yang mencium pipi gemasnya. Aku menuju dapur untuk membuat teh manis hangat mencegah perutku lapar, atau melihat isi rice cooker siapa tau saja ada nasi sesendok yang dapat kumakan dengan kecap. Karena terlalu banyak pecahan beling kakiku tersayat dan berdarah. Rasanya perih sekali inginku menangis tapi tak guna aku menangis malah akan menambah sakit dan lapar saja. aku menyeret kakiku menuju dapur dan melihat isi rice cooker ada nasi yang sudah mulai kering. Darah menetes dilantai, kalau bunda melihatnya pasti ia akan marah dan mengecapku penambah susah hidupnya. Aku mengambil piring kesayanganku winnie the pooh dan mengambil nasi, memberinya sedikit kecap akan menambah citarasa. Aku mencari hansaplast dan betadine di kotak P3K tapi kotak P3K yang biasa tergantung dibelakang pintu dapur juga tak ada. Darah tetap saja mengalir dikakiku. Apa yang harus aku lakukan agar darah ini berhenti mengalir? Aku teringat film perang yang pernah aku tonton jika darah mengalir perban dengan kain bekas yang bersih. Aku mencari kaos milikku yang sudah lusuh ditumpukan baju kotor yang sudah lama tidak dicuci. Aku menemukannya! ada lubang kecil di dekat pundak aku merobeknya asal dan melilitkannya dikakiku, begini sepertinya lebih baik. aku memakan nasiku tanpa menghiraukan rasa dan kering nasi ini anggap saja aku sedang makan nasi goreng mang Ujang depan komplek yang rasanya enak tak tertandingi.
Ayah memanggilku, ternyata sehabis makan aku tertidur di meja makan. Mungkin aku lelah. Aku segera menghampiri ayah yang sedang merapihkan serpihan beling dilantai. "Kenapa yah?" tanyaku meminggir ke tembok.
"Sisi sudah bangun coba lihat dulu." aku segera masuk ke kamar dan Sisi menangis minta di gendong dan ajak bermain atau lapar.
"Kak sini dulu.." panggil ayah, aku menghampirinya menahan sakit di kaki kanan.
"Kak kamu sudah lelah dengan pertengkaran ayah dan bunda?" aku mengangguk
"Ayah dan bunda akan bercerai, kamu dan Sisi akan ikut ayah pulang kerumah nenek."
"Oh yasudah. Kapan akan pulang kerumah nenek?" aku menjawabnya santai, tak tau lagi aku haruss bicara apa. Mungkin lebih baik mereka pisah dan mencari kebahagiaan masing-masing dibandingkan mempertahankan selalu bersama tapi berperang walalu hati tersayat mendengarnya tak ada pilihan unutk memilih bunda.
"Setelah kamu selesai ujian kenaikan kelas." jawab ayah melihat ke kalender. aku masuk lagi ke dalam kamar dan membuatkan susu untuk Sisi. Susunya sudah tinggal sedikit mungkin 2x minum lagi. aku akan membuatnya 1 sendok dan kuberi sedikit gula supaya bisa diminum untuk 2 hari sampai ayah dan bunda sadar kami butuh asupan gizi.
Malam harinya bunda sudah pulang dan duduk di sofa, aku menghampirinya ingin sekali mengobrol dengannya terakhir kali sebelum "Perceraian" akan memisahkan kami nantinya.
"Bunda capek?" tanyaku mendekat, bunda menggeleng.
"Kamu sudah makan kak?" aku menggeleng, sudah si makan tapi hanya dengan nasi kering.
"Bunda bawain kamu nasi goreng mang Ujang sama susu buat Sisi ada di dapur, makan dulu gih" aku berjalan ke dapur dengan kaki terpincang-pincang.
"Kaki kamu kenapa kak?" tanya bunda yang menyadari jalanku terpincang-pincang
"Cuma kena beling sedikit kok tadi." bunda tampak melihat kakiku dengan tatapan sedih dan menghapus air mata dipelupuk matanya
"Gapapa kok bun, sudah sembuh." ucapku dan ke dapur memakan nasi goreng mang Ujang sekarang tak perlu berkhayal lagi. Ini benar-benar nasi goreng terenak didunia.
Aku kembali lagi ke kamar, aku merasa tempat teraman didunia ini hanya kamar saja. Bunda memeluk Sisi erat dan mengelus-ngelus pipinya Sisi tampak senang akhirnya bunda kembali lagi menimangnya. Kalau dihitung-hitung waktuku tinggal seminggu lgi bersama bunda karena usai ujian kenaikan kelas aku akan tinggal dirumah nenek. aku pasti punya teman baru dan suasana baru. semoga saja disana lebih tenang dan menyenangkan. aku menghampiri bunda dan meletetakan kepalaku dipangkuannya. Bunda mengelus rambutku yang sudah panjang tak terawat ini.
"Makasih ya bun nasi gorengnya, enak loh." bunda tersenyum dan membelai rambutku lembut rasanya aku ingin mati saja sekarang supaya tidak tau kalau benar-benar terpisah dari bunda bagaimana rasanya, bunda pasti kesepian..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar